Hal-hal yang mungkin tidak anda ketahui seputar kamera digital


Saat ini hampir semua orang punya kamera digital, minimal kamera yang ada pada ponsel. Kehadiran kamera digital ini sudah banyak merubah cara hidup kita, dengan begitu mudahnya memotret, mengedit, mencetak dan menghapus bila perlu. Tidak perlu beli film, tidak perlu mencuci ke negatif, bahkan foto digital tidak harus selalu dicetak diatas kertas. Dengan hadirnya kemudahan dari alat yang bernama kamera digital ini, hampir sebagian besar diantara kita sudah tidak peduli lagi akan bagaimana cara kerja dari sebuah kamera dan hal-hal teknis apa yang terjadi saat kita memotret. Kali ini sebagai bahan masukan saja, saya sajikan hal-hal yang mungkin anda belum tahu soal bagaimana kamera digital itu bekerja, atau hal-hal apa yang berkaitan dengan kamera digital. Meski anda tidak tahu sekalipun, pada dasarnya ini tidak berpengaruh pada foto yang anda hasilkan. Namun dengan mengetahui hal-hal berikut, setidaknya anda dapat lebih mengenali dunia fotografi digital. Fakta dan info seputar sensor : Fotografi digital menggunakan sensor peka cahaya sebagai pengganti film. Oke kita semua tahu itu. Tapi tahukah anda bahwa di dalam sensor (entah CCD atau CMOS) yang mengandung jutaan piksel peka cahaya itu ternyata adalah rangkaian analog dan bukan digital? Hasil keluaran dari sensor harus diubah dulu kedalam data digital dengan suatu kedalaman warna tertentu entah itu 8 bit, 12 bit atau 14 bit. Pada dasarnya sensor tidak bisa mengenali warna, atau istilahnya buta warna. Maka itu diperlukan lapisan filter warna khusus sehingga sensor bisa memberikan hasil foto yang penuh warna. Filter ini ada beberapa jenis, seperti Bayer filter, Kodak filter dan Foveon X3 filter. Hampir semua kamera digital memakai filter warna Bayer yang berbasis RGB, namun dengan warna hijau 2 kali lebih banyak dari warna merah dan biru. Kelemahan filter Bayer adalah tiap piksel hanya diwakili oleh satu warna (entah merah, biru atau hijau) sehingga perlu suatu metoda yang mengakali hal ini supaya sensor mampu menangkap semua elemen warna yang ada. Teknik ini dinamai Bayer interpolation yang meski kuno (ditemukan tahun 1976) namun masih tetap dipakai hingga kini. Saat berbicara soal dynamic range, umumnya kita berbicara soal seberapa halus tiap piksel peka cahaya pada sensor mampu menerjemahkan intensitas cahaya ke dalam besaran tegangan. Perhatikan kalau piksel berukuran besar (seperti pada DSLR) mampu membedakan terang gelap lebih baik dibanding piksel pada kamera saku (apalagi kamera ponsel). Maka itu kamera saku dan kamera ponsel lebih mudah mengalami highlight clipping atau area putih yang blown/terbakar. Sebagian kita menafsirkan dynamic range adalah seberapa halus kedalaman warna (gamut) yang dihasilkan oleh rangkaian ADC yang digunakan untuk mengkonversi tegangan output sensor ke dalam bilangan bit. Meski tidak salah, kedalaman warna yang umumnya anatara 8 bit hingga 14 bit ini tidak banyak berpengaruh apabila rasio sensor dan piksel/resolusi sudah di ambang batas kritis (seperti sensor 14 MP yang berukuran 1/1.7 inci). Fakta dan info seputar file RAW dan JPEG : Tahukah anda kalau file format RAW adalah file mentah yang langsung diambil dari sensor tanpa melalui proses Bayer Interpolation? File RAW juga tidak sedikitpun mengalami setting contast-WB-sharpness-saturation sehingga anda bisa berkreasi dengan berbagai setting itu lewat komputer. Sebagai resikonya, file RAW memakan file space cukup besar hingga belasan mega bytes. Pada tahun 2000 telah diumumkan teknologi JPEG yang lebih baik dalam melakukan kompresi gambar, namun hingga detik ini format yang bernama JPEG 2000 itu belum kunjung diaplikasikan pada kamera digital manapun. Kompresi JPEG adalah berjenis lossy compression sehingga ada bagian dari gambar yang akan mengalami penurunan kualitas. Umumnya kamera memberi pilihan kompresi JPEG yang akan digunakan, dan dinyatakan dalam setting quality. Ada dua hingga empat pilihan semisal : basic, fine, super fine dsb. Kompresi terbaik menghasilkan sedikit penurunan kualitas, namun memakan file space lebih besar. Fakta dan info seputar white balance (WB) : Prinsip kerja WB adalah menjaga sebuah benda putih akan tetap tampak putih saat difoto memakai sumber cahaya apapun. Namun dalam istilah yang lebih keren, WB adalah pengaturan kompensasi temperatur warna (dinyatakan dalam Kelvin) sehingga hasil foto memberikan warna yang akurat. Hampir sebagian dari kita memilih mode auto white balance saat memotret. Salah? Tidak juga. Namun tahukah anda kalau kamera terkadang salah dalam menentukan WB? Saat ini terjadi, foto akan nampak terlalu kebiruan atau terlalu kemerahan. Tiap sumber cahaya punya temperatur warna yang berbeda. Cahaya dari sebatang lilin sekitar 1500 K, dan cahaya matahari siang hari sekitar 10.000 K. Perbedaan ini tidak nampak bila dilihat dengan mata, namun kamera bisa memberi warna yang salah saat setting WB ini tidak tepat. Untuk akurasi warna tinggi dibutuhkan manual / custom white balance berbantuan grey card (ya, abu-abu dan bukan putih). Mengapa abu-abu? Karena dia punya medium tone dan neutral hue. Bingung? Saya juga…. Fakta dan info seputar eksposure : Dasar fotografi hanya tiga, oke kita masih ingat itu : shutter – aperture – ISO. Tapi tahukah anda bahwa ketiganya bergantung dari modul light meter yang mengukur cahaya berdasar setting metering yang kita tentukan (matrix, center weight atau spot meter)? Light meter kamera tidak akurat dalam mengukur cahaya. Prinsip kerjanya hanya mengukur cahaya yang ditangkap dari pantulan objek dan paling optimal saat mengukur benda berwarna 18% luminance (middle grey). Nah lho.. Kalau benda yang diukur lebih terang atau lebih gelap dari middle grey, metering kamera akan meleset. Untuk itu kompensasikan dengan Ev. Cara termudah mengevaluasi ketepatan eksposure adalah melihat histogram, baik sebelum atau sesudah foto diambil. Beberapa kamera hanya menampilkan luminance histogram yang sebenarnya adalah perwakilan dari histogram warna hijau, dan sebagian kecil lainnya menampilkan RGB histogram lengkap. Bahkan kontras tidaknya sebuah foto juga dapat dilihat dari histogram ini. Fakta dan info seputar auto fokus : Dahulu kala semua kamera itu manual fokus. Teknologi auto fokus lalu hadir dengan membawa perubahan besar di dunia fotografi. Pada DSLR prinsip kerjanya memakai deteksi fasa, pada kamera digital lain memakai deteksi kontras. Tahukan anda kalau sistem auto fokus pada kamera tidak suka akan objek yang flat, tanpa kontras dan monoton? Cobalah mengunci fokus pada bidang tembok yang datar dan warnanya seragam, tentu kamera akan berulang kali mencari fokus kemudian menyerah.. Salah satu faktor yang membuat DSLR mahal adalah modul auto fokusnya. Modul ini punya beberapa titik sensor dimana semakin banyak titik maka makin mahal modul tersebut. Apalagi bila titik sensor itu berjenis cross-type yang lebih sensitif, maka DSLR itu sudah tergolong kelas mahal.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: